Ketika Sampah Menjadi Sumber Rezeki: Langkah Kecil Rifaul Zamzami Menjawab Masalah Limbah

Photo of author

By admin

Pagi itu, matahari baru naik setinggi atap rumah ketika suara mesin jahit terdengar berderit di sebuah rumah sederhana di Comal, Kabupaten Pemalang. Di sudut ruangan, tumpukan kain warna-warni tergeletak di atas meja panjang. Potongan-potongan perca itu bukan kain baru—mereka berasal dari limbah pabrik sarung di Pekalongan yang tak jauh dari situ. Di sanalah Rifaul Zamzami memulai kisah perubahannya.

Bagi banyak orang, limbah sarung mungkin hanya sampah. Tapi bagi Rifaul, tumpukan itu seperti peluang yang menunggu disentuh. “Sayang kalau dibiarkan,” ujarnya suatu kali, tangannya tak berhenti menuntun kain di bawah jarum mesin. Dari potongan yang dulu dianggap tak berguna, lahirlah celana-celana kecil berwarna cerah—karya tangan warga yang dulu tak punya penghasilan tetap.

Dari Tumpukan Limbah ke Harapan Baru

Pekalongan terkenal sebagai kota batik dan sarung, tapi produksi yang besar juga meninggalkan jejak: gunungan limbah tekstil. Pihak pabrik memang membolehkan siapa pun mengambilnya secara cuma-cuma, namun sedikit yang tahu apa yang bisa dilakukan dengan kain-kain sisa itu.

Rifaul yang sehari-hari melintas di sekitar area pabrik sering melihat truk membawa limbah keluar. Suatu sore, ia berhenti dan memperhatikan. Di antara tumpukan kain yang teronggok, ia melihat potongan yang masih bagus, bersih, dan berwarna cerah. “Ini masih bisa dipakai,” pikirnya. Sejak hari itu, ia mulai membawa pulang karung-karung kecil berisi perca.

Di rumah, bersama istri dan anak-anak, ia mencoba menjahit potongan-potongan itu menjadi celana anak. Tidak semua bagian bisa digunakan, jadi mereka memilih yang terbaik, menyesuaikan pola dengan bentuk kain. Awalnya hanya untuk kebutuhan keluarga dan tetangga. Tapi ketika satu dua orang mulai memesan, Rifaul menyadari: ini bukan sekadar kegiatan iseng—ini peluang.

Menggerakkan Warga Sekitar

Dari meja kecil di ruang tamu, kegiatan itu menjalar ke rumah-rumah lain di kampungnya. Ia mulai mengajak para tetangga—ibu rumah tangga, buruh yang kehilangan pekerjaan, bahkan anak muda yang baru lulus sekolah—untuk ikut menjahit. “Daripada nganggur, ayo coba,” katanya ringan.

Hari-hari berikutnya, suasana kampung itu berubah. Di banyak rumah, suara mesin jahit menggantikan sepi. Setiap keluarga memiliki peran: ada yang memotong kain, ada yang menjahit, ada pula yang menyetrika dan mengemas. Celana-celana kecil hasil tangan mereka dijual dengan harga terjangkau—mulai empat ribu hingga lima belas ribu rupiah per potong. Pembelinya datang dari warung-warung pakaian di kota, toko grosir di pasar, bahkan pedagang keliling di luar daerah.

Dari satu rumah, jumlah yang ikut bergabung terus bertambah hingga mencapai lebih dari 50 orang. Rifaul bukan hanya mengubah limbah menjadi produk, tetapi juga mengubah pandangan masyarakatnya: bahwa dari sesuatu yang dianggap tak bernilai, bisa tumbuh harapan baru.

Jalan Panjang Pemasaran

Namun perjalanan itu tidak mudah. Menawarkan produk dari bahan limbah bukan hal yang mudah diterima pasar. Banyak pedagang menolak, meragukan kualitas, bahkan mencibir. Tapi Rifaul tidak menyerah. Ia membawa contoh produknya ke pasar-pasar di sekitar Pemalang dan Pekalongan, menawarkannya dari satu kios ke kios lain. “Coba dulu, kalau nggak laku, nggak usah bayar,” begitu caranya meyakinkan pembeli.

Perlahan, keuletannya membuahkan hasil. Celana-celana dari limbah sarung itu mulai laris. Pesanan datang dari berbagai kota, bahkan sampai Riau. Namun badai datang saat pandemi melanda. Permintaan turun drastis, stok menumpuk, dan sebagian warga terpaksa berhenti menjahit.

Rifaul kembali berpikir keras. Ia mulai belajar memasarkan secara daring—melalui media sosial dan marketplace. Anak-anak muda di kampungnya diajak membantu membuat foto produk dan mengatur penjualan online. Pelan-pelan, roda ekonomi kecil itu kembali berputar. Orang-orang yang sempat kehilangan penghasilan, kembali bisa tersenyum.

Lebih dari Sekadar Usaha

Kini, di rumah sederhana yang dulu menjadi tempat pertama kali ia menjahit kain perca, Rifaul masih duduk di depan mesin jahit yang sama. Di sekelilingnya, beberapa karung limbah baru menunggu diolah. Bagi Rifaul, ini bukan lagi sekadar usaha kecil, tapi gerakan sosial. “Yang penting bukan cuma uangnya,” katanya, “tapi bagaimana semua bisa hidup layak.”

Dari ide sederhana memanfaatkan limbah tekstil, Rifaul telah membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari sekitar rumah sendiri. Ia berhasil menghubungkan dua masalah besar—limbah industri dan pengangguran—menjadi satu solusi yang saling menguatkan.

Atas ketekunan dan kepeduliannya, Rifaul Zamzami menerima penghargaan Satu Indonesia Award dari Astra—pengakuan atas dedikasi warga biasa yang mampu menyalakan perubahan luar biasa.

Ketika ditanya apa rahasianya, Rifaul tersenyum, menatap karung-karung kain di belakang rumah. “Mulainya dari niat kecil saja,” ujarnya. “Kalau kita mau bergerak, Tuhan pasti tunjukkan jalannya.”

Di kampung yang dulu sunyi, suara mesin jahit kini menjadi musik harapan. Dari perca yang dulu dianggap sampah, lahirlah cerita tentang ketekunan, gotong royong, dan cinta pada kehidupan yang lebih baik.

Leave a comment